Spaghetti Code: Jeratan Mematikan yang Bisa Menghancurkan Proyek Anda!
Spaghetti code adalah istilah yang menggambarkan kesalahan dalam pemrograman. Diberi nama spaghetti, karena merujuk pada kode-kode yang salah, kusut, dan berbelit layaknya semangkuk spaghetti. Kondisi ini membuat pemrograman sulit dikontrol, sehingga beresiko mengalami bug, dan kode yang tidak teratur membuat pengembang sulit memahaminya. Hal ini mengakibatkan penurunan produktivitas dan menghambat berjalannya proyek.
Spaghetti code terjadi ketika kode dalam sebuah program menjadi sangat rumit dan tidak terstruktur. Hal ini disebabkan oleh kurangnya perencanaan sebelum mulai menulis kode, dimana developer langsung mengembangkan program tanpa desain yang jelas. Kode yang tidak terstruktur menyebabkan pola acak, sehingga sulit dipahami dan dikelola. Spaghetti code juga sering terjadi ketika fungsi atau file dalam program terlalu panjang dan tidak dibagi menjadi bagian-bagian yang lebih kecil dan rapi. Kesalahan ini semakin diperparah karena developer tidak memiliki dokumentasi. Padahal, dengan adanya dokumentasi akan mempermudah developer yang akan membantu pengembangan software tersebut, sehingga mudah dipahami.
Sebelum menambah fitur-fitur baru, kode yang kusut harus dirapikan sebelumnya atau disusun ulang terlebih dahulu (refactoring), untuk mempermudah pemeliharaan. Adapun kendala lain yang menjadi penyebab spaghetti code adalah saat berada dalam tim besar. Terdapat perbedaan dalam penulisan kode, yang mengakibatkan masing-masing developer memiliki gaya penulisannya masing-masing dan menyebabkan kekacauan dalam proyek.
Kondisi ini akan memperburuk pengembangan software, seperti menyulitkan proses debugging, memperlambat perbaikan, pengembangan fitur baru, serta meningkatkan risiko bug dan error. Oleh karena itu, ada beberapa hal penting untuk yang perlu diperhatikan untuk menghindari penulisan kode yang salah saat pemrograman. Yang pertama, developer harus mengikuti prinsip-prinsip dalam programming. Terdapat tiga prinsip yang paling umum, diantaranya SOLID, yang membantu developer membuat kode yang terstruktur. DRY (Don't Repeat Yourself), membantu developer untuk menghindari penulisan kode yang berulang. KISS (Keep It Simple, Stup*d), untuk membuat kode simpel dan menghindari kesalahan yang kompleks.
Kedua, lakukan dokumentasi dan koordinasi tim. Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, tidak adanya dokumentasi dalam mengkoding akan menyebabkan miskom ketika berada dalam tim besar. Dokumentasi bisa dikatakan sebagai panduan bagi developer untuk mengerjakan sebuah proyek. Pentingnya membuat dokumentasi dalam coding adalah, dapat memahami source code dengan baik, meningkatkan kualitas source code, dan mempercepat proses debugging. Berikut beberapa rekomendasi bahasa pemrograman yang memiliki banyak dokumentasi referensi diantaranya Python, PHP, JavaScript, dan Ruby. Penggunaan bisa disesuaikan sesuai kebutuhan, serta mempertimbangkan keunggulan dan kemudahannya.
Dalam tim yang besar, harus ada koordinasi dan memiliki standar coding yang jelas. Jika tidak, kode bisa berkembang dengan tidak konsisten dan menciptakan kesalahan yang lebih besar. Sederhananya, spaghetti code terjadi karena kurang perencanaan, praktik coding yang buruk, serta kurangnya koordinasi dalam tim. Hal ini menyebabkan kode menjadi sulit dibaca, dipelihara, dan dikembangkan, sehingga meningkatkan risiko bug dan kesalahan dalam software.
Jadi, spaghetti code bisa dihindari dengan melakukan refactoring secara berkala, mengikuti prinsip pemrograman yang benar, serta melakukan dokumentasi yang rapi agar kode mudah dibaca, dipelihara, dan dikembangkan. Lakukan langkah-langkah ini agar pengembangan dan proyek bisa terselesaikan tanpa kendala.
Referensi:
https://www.bmc.com/blogs/spaghetti-code/
https://youtu.be/QyZXfrclGMs?feature=shared
https://www.geeksforgeeks.org/folder-structure-for-a-node-js-project/